[Puisi] Suluk sang Kiai Palsu

Di pondok kecil bersanad langit,
hidup seorang wali mengaku suci.
Jubahnya putih, sorbannya arih,
mulutnya meneteskan dalil bak embun surgawi.

Katanya, ia menyegel bijuu di perutnya
lalu menjelma dua, tiga, hingga seribu.
Kagebunshin no jutsu!” serunya riang,

Lantas ia menjelma jadi bayang-bayang,
menuju ke tempat
yang seharusnya ruang aman
bagi seorang puan.

Brengsek, pergi kau tua bangka sialan!
Tua bangka berbau surga palsu
merangsek ke tubuhnya.

Semuanya tampak membiru,
rapalan yang ia serukan seolah membusuk
di langit-langit musala.

Brengsek, brengsek!
Isn't daijoubu!
Puan itu kini menangis di dalam gelap,
mulutnya terkunci oleh dalil dan dalih.

Sementara itu, di hadapan semua orang,
tua bangka nan cabul
bersumpah atas kitab dan bintang
bahwa bukan ia yang merangsek ke tubuh puan
melainkan jin mandraguna

Jin pun bersaksi di altar sidang.
"Sejak kapan kami berahi pada fana?"
Demi Tuhan yang ia jual di mimbar,
saya dikambinghitamkan.

Di bawah kitab,
di bawah doa yang ia lapisi nafsu,
ia terus bersilat lidah.

Sungguh celaka,
pesantren merah
yang menopang jubah putih sang wali murahan,
di bawah dongeng jutsu tak masuk akal,
ia terkuak palsu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *