Goober City (TTBB). Sejumlah pemilik kafe dan restoran di Goober City, Distrik Goofy Goober, tampak resah. Kebijakan pemerintah daerah Goofy Goober untuk memungut royalti terhadap lagu yang dimainkan di kafe dan restoran mengancam pendapatan mereka.
Xiangling, pemilik Restoran Wanmin, mengatakan bahwa kebijakan royalty tersebut menguras lebih dalam pendapatan sehari-hari usaha miliknya.
“Sekarang mencari pelanggan sudah sulit. Ditambah dengan beban royalti dari pemerintah, membuat pendapatan yang sudah sedikit merosot hingga sedalam 20.000 mil,” ungkapnya kepada reporter TTBB TV, Jumat (8/8).
Hal senada juga diungkapkan oleh Gordon Ramsay. Pemilik beberapa restoran berbintang di daerah Goober City utara mengaku, ia memilih untuk memutar lagu Twinkle Twinkle Patrick Star di seluruh restoran miliknya.
“Itu adalah wujud protes kami atas kebijakan pemerintah,” paparnya.
Menanggapi keluhan para pemilik usaha dan restoran tersebut, pemerintah Goofy Goober angkat bicara. Menurut Zhang Purnama, selaku Ketua Lembaga Managemen Kekayaan Kolektif Negara (LMKKN), mengatakan bahwa pihaknya telah memberikan solusi alternatif kepada pemilik usaha.
“Jika memang dirasa berat untuk membayar royalti, bisa diganti dengan menggunakan suara alam, atau musik yang diciptakan sendiri,” ucapnya dalam sebuah acara resmi.
Menurutnya, kebijakan royalti tersebut telah dirumuskan dengan tepat, karena hasil dari royalti digunakan untuk mengembangkan industri musik di Goofy Goober.
“Jika para pelaku musik dan pencipta lagu sejahtera, mereka akan menghasilkan karya yang penuh dengan daya pikat dan nilai artistik yang memukau. Sulit untuk berkarya, kalau mereka sendiri harus hidup dari lagu ke lagu,” pungkasnya. (*/Ema)
