Categories Galeri Squidward Story

[Story] Janji di Tengah Kepalsuan [2]

Dalam perjalanan menuju Bukit, aku menelepon Pak Amrullah, pemilik rumah tempatku seharusnya bekerja hari ini.

“Assalamualaikum, Pak Am. Mohon izin Pak, hari ini saya belum bisa menyelesaikan pengecatan rumah Bapak. Saya sedang mengurus satu perkara di Polda. Semoga bisa selesai hari ini, supaya besok saya bisa bekerja kembali.”

“Ya sudah, tak masalah, Mas. Semoga urusannya cepat selesai. Saya hanya minta pekerjaan Mas selesai dua hari sebelum Lebaran. Nanti, saya kabari istri,” jawabnya lewat telepon.

Setelah mengucap terima kasih, telepon ku tutup.

“Siapa yang kau telepon, Neka?” tanya Ivan, yang mengemudikan mobil.

“Pak Am, tetangga sebelah. Aku kerja padanya, ngecat rumahnya. Tapi, belum selesai.”

“Sekarang jadi tukang cat juga kau?” ucap Ivan terkekeh.

“Mengapa? Apa salahnya?”

“Bukan salah … tapi kau? Bisa mengecat? Tidak malu?”

“Ivan, pekerjaan kasar seperti ini sudah sering ku lakukan. Kalau soal malu, dirimu salah tanya orang. Aku bisa dibayar untuk melakukan apa pun.”

Ivan tersenyum sinis. “Kalau begitu, kau juga mau menipu kalau dibayar? Seperti orang itu menipu adikmu,” tanya Ivan dengan ketus.

Pertanyaan itu membuatku terdiam sejenak. “Aku tak bilang begitu. Aku bukan penjahat. Masih ada harga diri dan moral yang ku pegang.”

“Katamu, kau bukan penjahat …, tapi perbuatanmu yang lalu … beda cerita. Kau jahat, Neka.”

Aku tertawa kecil. “Ah, perkara itu, ya …, mungkin dirimu ada benarnya. Tapi, walau aku penjahat, aku masih punya kehormatna. Dirimu suka konsep itu, bukan?”

Ivan tertawa lepas.

Memang begitulah Ivan, seorang pengemudi yang ugal-ugalan, termasuk juga sifatnya. Tapi, dalam situasi genting, ia dapat diandalkan.


Setelah beberapa waktu, kami tiba di tempat kos adikku di wilayah Bukit.

“Anna, ini Neka,” jawabku sembari mengetuk pintu.

Langkah pelan terdengar dari dalam. Anna membuka pintu.

“Sudah dirimu siapkan dokumen yang ku minta?”

Anna mengangkat ponselnya, memperlihatkan berkas digital. “Sudah, Kak. Tapi, ini perlu di-print out enggak?”

“Nanti kita cetak. Tapi, aku lihat dulu.”

Dari tangkapan layar itu, aku menyimpulkan semua ini berawal dari masuknya nomor Anna ke sebuah grup Telegram tanpa sepengetahuannya. Dalam grup itu, beberapa orang meyakinkan para anggota bahwa mereka adalah rekan bisnis yang dapat dipercaya.

Permintaan mereka awalnya sederhana, yakni berikan like dan ulasan positif dalam sebuah konten TikTok yang bekerja sama dengan mereka. Anna tertarik melakukannya, dan mendapat bonus Rp30.000, ditransfer langsung ke dompet digitalnya.

Tak lama, ia dihubungi oleh seseorang yang menggunakan foto profil seorang profesional, dengan pakaian jas seperti pekerja kantoran. Ia diminta mendaftar di sebuah situs, yang berkamuflase sebagai TikTok Mall.

Berdasarkan tangkapan layar itu pula, Anna mendapat bonus hampir Rp400.000 dari situs itu. Ia bisa ditarik, dan benar-benar masuk ke dompet digitalnya. Karena itulah, ia percaya akan keabsahan situs itu.

Kepercayaan Anna, akhirnya menjadi pintu masuk penipuan sesungguhnya. Kali ini, Anna diminta untuk membeli produk di situs tersebut. Setelah mengirim sejumlah uang ke rekening pribadi sebuah bank, Anna diminta untuk mengirimkan lebih banyak uang.

Awalnya, Anna meminjam uang Mama untuk misi pertama. Karena ragu untuk meminta lagi, ia menghubungi Bikcak di Jakarta. Bikcak, yang curiga terhadap bisnis ini, berkata bahwa Anna sedang ditipu.

Akhirnya, Anna meneleponku. Mungkin, ia mencoba mencari pembenaran bahwa dirinya belum jatuh dalam perangkap penipuan.

“Jadi, benar Anna ketipu ya, Kak?”

“Anna, dirimu mempermalukanku. Adik dari seorang sarjana komputer, ditipu lewat komputer. Dirimu tamak, dan seseorang memanfaatkan ketamakanmu.”

Anna hanya bisa menunduk. “Maaf, Kak. Anna tahu Anna tamak. Anna tahu Anna bodoh.”

“Bagus kalau dirimu paham. Lalu, kenapa dirimu tamak?”

“Anna pengen beli iPad, Kak,” jawabnya lirih.

“Jadi karena iPad, dirimu jadi tamak dan buta? Dirimu juga yang akhirnya menanggung akibatnya. Aku senang dirimu berusaha mewujudkan impianmu sendiri. Tapi, aku tak suka kebodohanmu.”

“Iya, Kak. Anna akan ganti uang Mama dari uang jajan Anna.”

“Bagus, anggap ini pelajaran. Tak ada uang yang mudah, kecuali hasil kejahatan, dan uang dari kejahatan akan segera lenyap.”

Anna mulai terisak, tapi ditahannya.

“Jangan menangis, Anna. Setidaknya, jangan di hadapan kakakmu.”

Aku dan Anna bergegas berangkat ke polisi. “Kita ke Polda buat laporan. Kita coba bekukan rekening pelaku. Dirimu keberatan, Anna?”

Anna menggeleng. “Tadi Anna tanya ke Mutia. Papanya sipil di Polda. Katanya, bisa lapor ke Polsek aja.”

Aku berpikir sejenak. Tak mungkin Polsek bisa menangani ini. “Kalau begitu, kita coba ke Polsek Sukarami, biar dirimu lihat sendiri alasannya.”

“Mengapa Sukarami, Kak?”

“Karena sesuai alamat KTP-mu. Urusan administrasi negara ini keparat. Nanti, mereka akan tanya kamu transfer dari mana. Kalau bukan wilayah mereka, bisa ditolak. Bilang saja, dirimu transfer dari rumah kita di Sukarami. Mengerti?”

Anna mengangguk, tanda paham.

Kami pun berangkat ke Polsek Surakami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *