Categories Galeri Squidward Story

[Story] Janji di Tengah Kepalsuan [3]

Setelah melintasi jalan Soekarno-Hatta yang begitu panjang, kami tiba di simpang Tanjung Api-Api. Tak jauh dari sana, Polsek Sukarami berdiri tegak, di sela-sela jembatan layang.

“Kak, Anna harus ngomong apa nanti?”

“Dirimu ceritakan saja apa yang dirimu alami. Mereka nanti mengarahkan.”

“Aku ikut turun?” tanya Ivan sembari menatapku.

“Sesukamu, Ivan. Tapi aku yakin, kita tak akan lama di sini.”

Aku turun dari mobil, menancapkan tujuan ke bagian SPKT di Polsek itu. Anna mengikuti dari belakang.

Di ruang SPKT, seorang polisi berusia paruh baya, berpangkat walet, sedang duduk mengobrol dengan seorang rekannya yang lebih muda. Tercantum sebuah nama di dadanya: Slamet.

“Selamat pagi, Pak. Saya ingin melaporkan kasus penipuan online adik saya,” aku membuka percakapan ke polisi bernama Slamet itu.

“Oh, silakan duduk Pak. Adiknya juga. Ini saudara kandung, ya, Pak?”

“Benar, Pak. Saya kakak kandungnya.”

Aku mengangguk kepada Anna, yang tampak ragu, memberikan isyarat bahwa tak ada yang perlu ia takutkan.

Slamet kemudian bertanya kepada Anna tentang kronologi kasus yang dia alami. Anna menceritakan semuanya. Setelah Anna selesai bercerita, ia berkomentar. “Waduh, kasus kamu ini sudah lama modusnya. Kamu kan sudah mahasiswa, bagaimana mungkin bisa tertipu seperti ini?”

Air wajah Anna langsung berubah menjadi perasaan bersalah. Dia mengaku bahwa telah percaya kepada orang yang baru saja dikenalnya di dunia maya. Slamet hanya bisa mengangguk.

Aku berpikir bahwa kalimat seperti itu kurang pantas untuk diucapkan. Sejak awal, Anna sudah menyadari kesalahannya. Aku pikir, lebih baik kiranya bekas luka akibat kejadian ini ditanam lebih dalam, agar semakin kuat dalam ingatannya.

Slamet kemudian memberikan lembaran kertas kepada Anna. “Ini kita ke reserse ya, Dik? Nanti saya kawal. Ikuti saya.”

Anna mengekor padanya. Aku mengikuti Anna dari belakang.


Di dalam sebuah ruangan kecil, seorang petugas berpakaian koko sedang duduk mendengarkan ceramah dari gawai miliknya.

“Kalian temui Bapak itu, ya,” ucap Slamet kepada kami, sebelum kembali berjalan ke ruang SPKT.

“Iya, Dik, ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas itu, menyadari kedatangan kami.

“Izin, Pak. Kami diantar dari SPKT, katanya menemui Bapak.”

“Oh, mari-mari. Jadi, ada masalah apa?”

“Adik saya ini terkena penipuan online, Pak.”

Dia terdiam sejenak, sedang berpikir akan suatu hal. “Wah, kalau di sini, kita hanya mengurus perkara yang biasa, Pak. Ini kan ranahnya cyber crime, laporannya di Polrestabes. Kalau kami di sini, tak punya anggota yang cakap di bidang itu.”

“Polrestabes di seberang, Pak?”

“Iya, Dik. Nanti bawakan juga cetakan barang buktinya ke mereka.”

Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Setidaknya, aku mengetahui bahwa kasus yang dialami Anna bukan perkara yang mudah. Ada kemungkinan pihak asing terlibat di dalamnya.

“Baik, Pak. Kami mohon izin diri,” ucapku, kemudian meninggalkan ruangan dan kembali masuk ke dalam mobil.


“Bagaimana?”

“Seperti yang aku bayangkan, Ivan. Mereka minta kita laporan ke Polrestabes.”

“Polrestabes yang mana?”

“Tempat dirimu membuat SIM itu, loh! Masa dirimu tak tahu?”

Ivan hanya tertawa kecil. “Kita ke sana sekarang?”

“Terlalu jauh. Kita ke Polda saja. Lebih dekat.”

“Nah, yang itu di mana?”

“Sudahlah! Dirimu jangan buat aku pusing pula! Jalan saja mengarah ke kota, nanti ku arahkan.”

Ivan mengangguk mengerti. Ia sepertinya memang tak memahami perbedaan administratif kantor polisi.


Kami akhirnya tiba di Polda. Kendaraan kami masuk melewati pintu penjagaan. Setidaknya, hanya itu pintu masuk yang aku ketahui.

“Nanti kita masuk, dirimu buka kaca. Bilang saja ke anggota jaga, kalau kita mau ke reskrimsus.”

Ivan mengiyakan.

Setelah memberhentikan kendaraan, aku meminta Ivan untuk turut serta. Laporan ini akan memakan waktu lama. Jadi, aku butuh teman.

“Kita ke SPKT dulu, ya?”

Ivan dan Anna mengangguk.

Di gedung SPKT Polda, kami diarahkan ke reserse kriminal umum. “Mengapa tidak langsung ke CCI saja, Pak?” tanyaku pada seorang petugas.

“Wah, kalau mereka itu biasanya lebih ke konten-konten pencemaran nama baik di Facebook atau sosmed lain, Pak. Nah, kasusnya Bapak ini penipuan murni. Jadi, kami arahkan ke kriminal umum, Pak.”

Entah mengapa, aku tak puas mendengar jawaban itu. Namun, mau tidak mau, aku menuruti arahan yang ada. Kami berangkat ke gedung kriminal umum.

Di sana, sekali lagi, kami diarahkan ke gedung kriminal khusus. Petugas polisi reserse umum menganggap kasus Anna berkaitan dengan teknologi sehingga ini bukan kriminal biasa.

“Memang prosesnya seperti ini, Neka?” tanya Ivan kepadaku saat berjalan menuju gedung reserse khusus.

“Sudah sering ku ceritakan soal ini, bukan? Administrasi negara kita itu keparat. Dirimu bayangkan saja, kita yang sedang susah, dipersusah lagi seperti ini!”

“Aku pikir kita bisa langsung laporan di satu tempat saja … Aku tak tahu jika harus mondar-mandir seperti ini.”

“Hanya ada dalam novel dan anime, Ivan. Kenyataan hidup kita jauh lebih meresahkan. Ku pikir ini menjadi salah satu alasan orang malas melapor ke polisi.”

“Pemisahan administratif itu memang penting. Tapi, seringkali ia membuatnya jauh lebih kompleks daripada seharusnya. Bagiku, negara ini sudah terlalu berlebihan dalam menciptakannya,” lanjutku.

“Aku tak mengerti maksudmu, Neka.”

“Ivan, setidaknya dapatkah dirimu membedakan antara kriminal umum dan khusus? Mengapa harus diperumit dengan pembagian yang justru membuat praktik lapangan menjadi lebih sulit?”

“Begitu ternyata …,” jawab Ivan. Meski begitu, ia belum sepenuhnya mengerti. Ia masih bekerja keras mencerna maksud dari kalimatku.

Aku kemudian mengarahkan pandangan ke Anna, yang mulai lelah dengan semua ini. “Kira-kira beginilah jika berurusan dengan polisi, Anna. Namun, kita tak punya pilihan. Aku ingin dirimu belajar dari pengalaman ini.”

“Iya, Kak,” jawab Anna dengan suara yang hampir tak terdengar.

Akhirnya, kami tiba di gedung reserse kriminal khusus, disambut dengan wanginya kopi ala kafe, tepat setelah membuka pintu masuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *