Categories Galeri Squidward Story

[Story] Aku yang Ditilang untuk Pertama Kalinya

Sore itu, mentari menyinari kota Palembang tanpa satu pun awan melintas, menandakan hari yang cerah dan cenderung panas. Aku sedang terburu-buru menuju kampus dengan motor Jupiter MX setelah menerima pesan mendadak dari dosen yang memintaku segera hadir untuk mengklarifikasi kesalahan administrasi berkas yang kukirimkan.

Dalam perjalanan, aku harus melalui Simpang Parameswara, simpang terluar kota yang terkenal angker di kalangan pengendara. Tatkala lampu merah memaksa aku berhenti, seorang polisi muda yang mengenakan masker mendekat.

“Dik, boleh kita menepi sebentar ke arah kiri?” pintanya.

Dengan kikuk, aku menuruti perintahnya. Tak lama kemudian, seorang polisi yang lebih senior mendekat. Aku pun bertanya, “Pak, mengapa aku diberhentikan?” Dia hanya membisu.

Polisi itu berusaha mencabut kunci kontak motorku, tetapi tersangkut. Aku pun mengambil kunci itu dan memasukannya ke dalam jaket.

“Kamu tidak boleh seperti itu! Tidak koperatif, kamu!” teriaknya sambil mengambil alih motorku dan membawanya ke depan sebuah rumah makan di dekat simpang lampu merah. “Sekarang, temui bapak yang di belakang sana,” perintahnya lagi.

Aku pun mendekati seorang bintara berpangkat walet dua di kerah baju seragam. “Permisi, Pak. Aku diberhentikan karena pelanggaran apa, ya? Bukankah fisik motorku lengkap?”

“Saya juga tidak tahu. Saya belum lihat kendaraan kamu. Boleh saya lihat surat-surat kendaraan dan KTP kamu?” tanyanya tegas.

Aku mengeluarkan dompet dan menyerahkan STNK serta KTP. “Ini, Pak.”

“SIM kamu ada?” tanyanya lagi.

“Belum ada, Pak. Aku belum punya.”

Polisi itu memandangku tajam. “Kamu bisa kena tilang karena itu. Ini saya tuliskan surat tilangnya. Kamu bisa membayar lewat mbanking atau ATM, atau menunggu putusan bulan depan.”

“Tapi ingat, motor kamu akan kami tahan sampai ada kuitansi pembayaran denda. Jika bayar di ATM, dendanya dua ratus lima puluh ribu rupiah; jika menunggu putusan, bisa lebih ringan.”

Aku merasa bersalah. Aku tahu kesalahanku mengendarai tanpa SIM, tetapi aku tak bisa berlama-lama di sini dan harus segera ke kampus untuk mengurus administrasi.

“Pak, apakah tidak ada jalan lain? Aku harus segera ke kampus,” pintaku.

“Tidak bisa, Dik. Ini aturan yang berlaku. Bagaimana kalau kamu telepon orang tuamu dahulu?” sarannya.

Aku pun meminta izin untuk menghubungi papa, tetapi hanya mendapatkan teguran. Papa berkata tak mau menolong dan menyuruhku mengurus semuanya sendiri.

Tak lama kemudian, teleponku berdering lagi. Ternyata mama menginstruksikan aku untuk berkata “minta tolong” sambil memberikan uang sejumlah lima puluh ribu rupiah kepada polisi. Panggilan itu diikuti oleh pamanku yang menyampaikan hal serupa.

Aku tak percaya harus melakukan hal seperti itu. Namun aku merasa terpojok, dan akhirnya menyerah pada pilihan menyuap agar urusan bisa dipermudah.

Aku pun kembali menemui polisi berpangkat walet dua yang sedang mengurus pelanggaran lain, aku berkata dengan suara pelan, “Izin, Pak, aku sudah bicara kepada papa, aku ingin minta tolong kepada bapak.”

Sambil tersenyum tipis, polisi itu berkata, “Tunggu sebentar, saya urus surat-surat bapak ini terlebih dahulu,” tegasnya sembari menunjuk pelanggar yang sedang diurusnya.

Aku pun duduk di samping motorku yang kini digembok, merasa gelisah dan bersalah karena harus mengorbankan prinsip antikorupsi yang selama ini kupegang. Tak kusangka, aku akan mengambil jalan yang tidak pernah sekalipun ku impikan.

Sepuluh menit kemudian, polisi yang tadi mendorong motorku memanggil dan mengajakku masuk.

Polisi berpangkat walet dua itu menatapku dan berkata, “Saya dengar kamu mau minta tolong?”

Aku mengangguk. “Iya, Pak. Kini aku hanya punya tujuh puluh ribu rupiah. Kalau boleh, kuberikan limapuluh untuk bapak dan dua puluh sisanya untuk keperluan makan serta mengisi bensin.”

Polisi itu menatapku dengan tajam, “Kamu jangan seolah-olah saya ini tidak punya nurani. Saya pun punya anak seusiamu. Lihat, berapa pun uang yang kamu berikan, saya terima dengan ikhlas. Bukankah begitu, Pak Anton?” tanyanya sambil menengok rekan sesama polisinya, yang hanya mengangguk pelan.

“Aku janji, minggu depan aku akan ke Polrestabes untuk mengurus SIM-ku, Pak,” lanjutku sambil menyerahkan selembar uang berwarna biru.

Polisi itu tersenyum dan berkata, “Baiklah, terimakasih atas kejujuranmu.”  Lalu dia menoleh kepada Pak Anton, “Tolong lepas kunci roda motor adik ini ya, Pak Anton.”

Setelah kunci roda dilepas, aku pun melanjutkan perjalanan ke kampus dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, aku merasa lega bisa melanjutkan perjalanan, tetapi di sisi lain, hatiku berat karena harus mengkhianati prinsip yang selama ini aku idealkan.

Aku pun bertanya-tanya: apakah benar polisi menerima suap, ataukah mereka hanya berusaha membantu, tetapi terhalang oleh tuntutan perut anak buahnya? Aku tak tahu. Mungkin beginilah cara dunia bekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *