Hai rakyat tersayang
Kalianlah yang gelap
Saham itu judi
Sawit juga pohon
Hai rakyat tersayang
Ku beri kalian makan siang
Namun, saat tampil sang gemintang
Dengan erat perut harus kalian pegang
Hai rakyat tersayang
Diamlah kalian
Jangan menggonggong bagai anjing
Kalian hanyalah binatang
Hai rakyat tersayang
Kasihanilah kami
Biar kami menari
Dengan hidung yang panjang
Dengan perut yang kenyang
Apa? Mengurus kalian?!
Cuih, apa-apaan!
Kami ini penuh kebodohan
Kami hanya pecundang
Membuat kebijakan yang bijak?
Membuat solusi yang cerdas?
Ayolah, kami malas berpikir
Itu terlalu berat bagi kami
Hai rakyat tersayang
Janganlah kalian cerdas
Janganlah kalian terdidik
Biarkan kami makin buas menghardik
Wahai para lambung besar
Hidung panjang
Lengkuas yang menyamar jadi rendang
Tanaman berduri dengan mawar
Tuhan kami tidak buta
Tuhan kamu tidak tuli
Pergilah kalian ke neraka
Tak pantas kalian diampuni
*Puisi ini pernah dibacakan oleh sang penulis, dan diunggah di akun Instagram pribadinya.

Saya tidak sengaja menemukan laman ini saat iseng-iseng berselancar dengan keyword “teman bulu burung”.
Dan… wow!
Sepertinya saya baru saja menemukan harta karun. Bukan spatulla canggih buatan Sandy, bukan juga ol’ reliable milik si celana kotak. Tapi secarik catatan “warga paling menderita di Bikini Bottom”—Squidward— yang mungkin ditemukan di galeri rumahnya setelah ia dikorbankan ke gunung berapi Bikini Bottom oleh si lumba lumba. Bagus sekali, pak Squidward!
Terima kasih telah mampir, hehe~