Gaungnya masih terus terdengar
Meski sedikit demi sedikit
Tanda tanya bermunculan
Setiap kali ia bermekaran di kepala
Tidak ada akar
Tidak ada batang
Tidak ada buah
Hanya bunga dan bunganya saja
Di pagi buta ia kuncup yang malu-malu
Kemudian di tengah siang
Kata merdeka bermekaran
Lalu layu sesaat setelahnya
Tanpa akar-akar yang menjadi fondasi
Tanpa batang yang memberikan penegasan
Tanpa buah yang menjadi perwujudan makna
Merdeka bermekaran seperti parasit
Setelah diisap habis kepolosan si belia
Otaknya dicuci bersih
Oleh kelopak propaganda
Bersama merdeka yang bermekaran, lalu layu
Layu juga nalar-nalarnya
Hanya bisa berucap sesuai bingkai media
Bahwa tanah air masih baik-baik saja
