Manusia panik. Perang Dunia Ketiga, yang diumumkan lewat siaran udara, dengan suara lebih dramatis dari pembacaan puisi paling pretensius, membuat mereka kocar-kacir. Bandara lumpuh. Grup WhatsApp keluarga menjadi medan konspirasi yang lebih padat dari seminar filsafat eksistensial.
Namun, di sudut kota, para seniman justru sibuk menata cahaya. “Kalau dunia mau kiamat,” kata seorang penyair sambil menyeduh kopi, “minimal framing-nya harus bagus.”
Aneh tapi logis: dalam sejarah kepanikan, hanya ada dua jenis manusia yang selamat, yang punya bungker, dan yang punya imajinasi. Bungker terlalu mahal. Imajinasi? Cukup modal kegagalan masa lalu dan sedikit trauma masa kecil.
Hari-hari pertama perang diisi dengan dentuman misil, yang bersuara seperti perkusi kontemporer tanpa kurator. Gedung-gedung runtuh seperti instalasi seni bertema “Dekonstruksi Peradaban.” Para penjabat sibuk menyelamatkan data, emas, dan citra diri. Para seniman justru menyelamatkan satu hal: narasi.
Di sebuah rubanah bekas ruang latihan teater, para pelukis, penari, sastrawan, dan musisi eksperimental, mereka yang selama ini dituduh tidak produktif secara ekonomi, berkumpul.
“Tenang,” ujar seorang dramawan, “kita ini spesies adaptif. Kita sudah terbiasa hidup tanpa honorarium.”
Mereka membentuk organisasi darurat bernama Lembaga Evakuasi Estetika dan Manipulasi Situasional, disingkat LEEMS. Tugasnya sederhana: mengubah kenyataan menjadi metafora sebelum kenyataan sempat melukai dirinya sendiri.
Ketika tentara asing memasuki kota, para seniman tidak lari. Mereka menyambut dengan festival. Spanduk bertuliskan “Biennale Apokalips: Kolaborasi Global Tanpa Visa” digantung.
Para serdadu kebingungan. Mereka dilatih menghadapi perlawanan bersenjata, bukan perlawanan bersyair. Seorang komandan mendekat, senapannya terangkat. Seorang penyair maju dengan tenang.
“Apakah Anda datang sebagai antagonis,” tanyanya lembut, “atau hanya karakter yang belum menemukan monolognya?”
Komandan itu terdiam. Ia belum pernah diserang dengan pertanyaan dramaturgis.
Sementara itu, para pelukis mengubah tank menjadi mural berjalan bertema “Kesepian Mesin dalam Sistem Patriarki Global.” Tank itu mendadak viral. Para tentara mulai berpose di depan karya yang tadinya alat penghancur. Algoritma media sosial lebih cepat dari misil balistik.
Musisi eksperimental bahkan lebih cerdik. Mereka merekam suara sirene dan ledakan, lalu merilis album berjudul “Symphony of Strategic Miscalculations.” Kritikus internasional menyebutnya “jujur, mentah, dan menghantam batas geopolitik.” Royalti mengalir.
Di sisi lain kota, para penjabat bersembunyi di bungker baja setebal tiga meter. Di dalamnya tidak ada sinyal, tidak ada penonton, tidak ada tepuk tangan. Mereka selamat secara fisik, tapi mati gaya.
Sedangkan, para seniman? Mereka berjalan bebas dengan rompi bertuliskan: “Observer of Chaos – Do Not Disturb, This Is Research.” Tidak ada yang mengganggu peneliti.
Kelebihan seniman dalam perang bukanlah otot atau strategi militer. Mereka mampu mengaburkan batas antara tragedi dan pertunjukan. Mereka ahli dalam seni pura-pura: pura-pura waras di tengah kegilaan, pura-pura miskin saat ditagih pajak, pura-pura paham ketika membaca proposal kuratorial.
Jika perang adalah absurditas terbesar umat manusia, seniman sudah latihan bertahun-tahun di wilayah itu. Seorang novelis tua berkata pelan: “perang adalah fiksi dengan anggaran terlalu besar.”
Para seniman tahu cara menulis ulang akhir cerita.
Di hari ke-100 perang, dunia mulai lelah. Moral merosot, ekonomi runtuh. Tapi, kota kecil itu justru menjadi pusat residensi internasional bertema “Rekonstruksi Imajinatif Pasca-Kiamat.” Negara-negara yang tadinya saling menembak, kini saling mengirim delegasi budaya.
Siapa yang paling piawai memanfaatkan kebutuhan itu? Tentu saja, para seniman, makhluk elastis yang bisa berubah dari korban menjadi kurator dalam satu tarikan napas.
Perang Dunia Ketiga mungkin menghancurkan banyak hal. Tapi, ia lupa satu variabel paling licin dalam peradaban: manusia yang bisa mengubah luka menjadi pertunjukan, dan pertunjukan menjadi peluang.
Ketika perdamaian ditandatangani di atas meja panjang dengan pena emas, seorang penyair berbisik. “Kita tidak menyelamatkan dunia. Kita hanya meng-edit-nya.”
Di dunia yang selalu ingin tampil dramatis, editor adalah makhluk paling berbahaya.
