Categories Edukasi Rumah Sandy

Kerja, Kerja, Kerja, Tak Ambil Cuti, Mendadak Tipes

Bagi pekerja, cuti adalah salah satu hal yang membahagiakan dalam sebuah pekerjaan, selain di-transfer uang gajian. Itulah mengapa, di meja kerja, selalu ada kalender untuk melihat tanggal merah dan cuti bersama.

Pekerja akan berebut cuti, apabila di kalender terpampang warna “merah-hitam-merah-weekend.” Karena cuti adalah sebuah hak, ia memang sepantasnya diambil dan dihabiskan sebelum akhir tahun.

Namun, kisah mengambil cuti tidak berlaku bagi SpongeBob. Ia tidak pernah mengambil jatah cuti yang diberikan oleh Tuan Krab.

Mungkin, jika SpongeBob hidup di Indonesia, ia menjadi pekerja yang diincar para HRD. SpongeBob memiliki etos kerja tinggi, upah dibayar minim tidak perlu sambat, dan tidak pernah ambil cuti.

Ini terlihat dalam episode Bummer Vacation, ketika Tuan Krabs mendapat surat teguran dari Persatuan Tukang Masak Bikini Bottom. Isinya, Tuan Krabs harus mengizinkan SpongeBob pergi liburan, atau ia harus membayar denda.

Sesuai dengan karakternya yang pelit, daripada membayar denda, ia merelakan pekerja terbaiknya untuk cuti semnetara waktu. Posisi SpongeBob sebagai koki diisi oleh Patrik, yang dibayar gratis, untuk sementara.

Menurut Centerstone, sebuah komunitas kesehatan nonprofit di Amerika, cuti bisa berdampak pada menurunnya rasa stres dan gelisah. Ia berdampak penting bagi kesehatan fisik dan mental (Ulfiyah, 2018).

Menurut Hurrell dkk. (1998) melalui Munandar (2001), terdapat beberapa faktor penyebab stres dalam bekerja, diantaranya adalah beban kerja di luar jobdesk pekerjaan, dan juga rutinitas yang membosankan (Harahap, 2019).

Maka dari itu, dalam Undang-undang Nomor 13/2003, dijelaskan apa saja yang menjadi hak para pekerja. Hak upah yang layak, hak mendapatkan keselamatan dan kesehatan dalam bekerja, yang di dalamnya mencakup istirahat dan cuti, hak mogok, dan hak atas pemberhentian kerja, adalah beberapa di antaranya (Devita & Nugroho, 2022).

Di Indonesia, fenomena seperti SpongeBob mungkin sangat jarang ditemui. Bagaimana tidak, baru lihat lowongan kerja yang disebar saja, sudah membuat dahi berkernyit.

Banyak kualifikasi, yang secara tidak langsung, membuat batasan bagi calon karyawan. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan lowonan pekerjaan di Malaysia (yang sempat ramai beberapa hari yang lalu). Belum lagi, tekanan dari atasan, membuat para pekerja jatuh stres.

Terkadang, ketika sudah memutuskan untuk mengambil cuti, atasan masih menghubungi Anda untuk menanyakan perihal pekerjaan. Tak sedikit yang mengabaikan, tetapi banyak juga yang masih merespon dengan dalih tidak enak hati.

Sepatutnya, cuti menjadi “free time” karyawan yang wajib diambil untuk kesehatan fisik dan mental. Jangan sampai, kita bekerja sampai jatuh tipes dulu, baru mengambil cuti. Akan sangat dicintai, jika atasan mengingatkan karyawan untuk “jangan lupa ambil cutimu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *