Categories Galeri Squidward Story

[Story] Sepotong Cokelat di Bulan Februari

Saat aku masih bersekolah di Kayuagung, sekolahku punya tradisi untuk membaca esai atau tulisan pendek. Esai dan tulisan pendek tersebut kemudian didiskusikan di hadapan seluruh siswa di depan lapangan upacara pada Jumat pagi.

Suatu hari, tepat pada tanggal 14 Februari, seperti halnya hari ini, tradisi itu kembali digelar.

Esai yang kami terima membahas tentang penolakan perayaan Valentine, yang dianggap sebagai budaya asing dan milik agama Kristen. Penulis esai tersebut menghadirkan berbagai argumen dengan dalil dari kitab suci Islam untuk menyatakan bahwa merayakan Valentine adalah perbuatan haram.

Tak hanya itu, para guru bersama anggota OSIS juga melakukan penggeledahan terhadap tas-tas kami untuk menyita cokelat dan permen yang dibawa siswa. Kami sama sekali tidak mengetahuinya, kecuali melalui pesan singkat dari teman-teman yang bersembunyi di dalam kelas.

Mendengar kabar itu, darahku mendidih. Aku merasa geram melihat sekolah mengkriminalisasi budaya yang sesungguhnya tidak merugikan siapa pun. Apa salahnya merayakan Valentine sehingga mereka harus menyita barang milik pribadi?

Dalam keheningan pikiranku, terlintas kutipan dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Aku tak menemukan ciri-ciri keadilan dalam tindakan sewenang-wenang itu.

Setelah 20 menit membaca dengan menahan rasa kesal, akhirnya tiba sesi diskusi. Dengan penuh tekad, aku mengangkat tangan, berharap bisa menyampaikan semua kritik yang selama ini terpendam.

Ibu Ade, seorang guru muda, mengajakku maju ke depan sambil menyerahkan mikrofon, “Silakan, Nak. Jangan tegang, ya,” ucapnya sambil tersenyum. Aku mengangguk mengerti.

Aku menarik napas dalam-dalam dan memulai dengan suara pelan, tetapi jelas terdengar melalui pengeras suara di seluruh lapangan. “Selamat pagi semuanya!”

Semua mata tertuju padaku. Meski rasa gugup menusuk hingga ke tulang, aku harus terus berbicara.

“Perkenalkan, aku Neka dari kelas XI IPA 2. Hari ini, aku ingin mengutarakan pendapatku mengenai esai yang telah kita baca.”

“Esai tersebut menyebutkan bahwa Valentine merupakan hari raya orang Kristen yang berawal dari legenda seorang pria bernama Valentine yang terlibat dalam perbuatan zina yang kemudian dijadikan Santo.”

“Namun, aku meragukan kebenaran cerita itu, sebab ada sumber lain yang menyajikan narasi berbeda. Jadi, aku belum dapat berkesimpulan pasti bahwa Valentine adalah milik eksklusif agama tertentu.”

“Terlepas daripada narasi sejarah dan agama yang berbeda-beda, mengapa kita tidak memaknai Hari Valentine sebagai hari kasih sayang biasa, seperti halnya Hari Ibu atau Hari Ayah? Kita hargai sebagai peringatan kasih sayang, bukan sebagai satu-satunya hari untuk memberikan kasih sayang.”

“Lalu, mengenai tindakan penggeledahan tas untuk mencari cokelat,” sambil diriku menggelengkan kepala, “kupikir bukanlah tindakan bijak. Apakah membawa cokelat ke sekolah sudah cukup menjadi suatu kejahatan?”

“Aku paham bahwa kita menolak perbuatan zina yang mungkin muncul pada hari ini, tetapi mari kita pisahkan antara peringatan kasih sayang, dosa zina yang muncul karena penyalahartian Valentine, serta sikap intoleran yang dipaksakan pada semua.”

“Aku menghargai sikap kritis bapak dan ibu guru, tetapi aku berharap kita bisa menemukan jalan tengah yang menghormati keberagaman agama, budaya, serta hak pribadi setiap siswa. Bukankah sesungguhnya segala perbuatan bergantung pada niatnya?”

Setelah mengembalikan mikrofon kepada Ibu Ade, aku kembali ke barisan diiringi tepuk tangan teman-teman sekelas. Sesampainya di sana, Livita menatapku heran, “Aku tak menyangka dirimu berani maju ke depan, Neka. Apa yang kamu makan saat sarapan?”

Aku hanya terdiam sesaat, menatap kosong sambil menahan kegelisahan.

“Liv, aku takkan melakukannya lagi. Aku takut.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *