Pada 1939, setengah juta pasukan Uni Soviet ditugaskan untuk mengambil alih wilayah Finlandia.
Ketakutan Uni Soviet akan serangan Adolf Hitler lewat Finlandia, membuat Josef Stalin, presiden Uni Soviet kala itu, memerintahkan pasukannya untuk merebut tanah Finlandia (Kalkandjieva, 2022), sekaligus menjadi kado ulang tahun ke-60 bagi sang presiden (Anonim, 1939).
Dilihat dari jumlah persenjataan dan pasukan, Uni Soviet nampak digdaya. Sekitar 6.000 tank dan 2.300 pesawat dikerahkan untuk menguasai Finlandia. Ini berbeda dengan Finlandia, yang hanya memiliki 32 tank dan 114 pesawat tempur (Shvangirade, 2023).
Unggul secara jumlah, pasukan Uni Soviet justru gegabah dan buruk dalam hal koordinasi. Mereka datang dengan pakaian serba hitam, di tengah musim dingin yang bersalju. Alhasil, kelengahan ini dimanfaatkan betul oleh pasukan Finlandia.
Menggunakan taktik “Motti,” Finlandia membiarkan tentara Uni Soviet maju ke depan, dan mereka akan menyerang Soviet dari belakang. Di sini, peran penembak jitu menjadi penting.
Dari sekian nama penembak jitu Finlandia, nama yang menonjol adalah Simo Häyhä.
Simo Häyhä lahir di Rautajarvi, sebuah kota pertanian di Finlandia. Ia menghabiskan masa kecil di alam liar dan peternakan. Ini menjadikannya sebagai seseorang yang mencintai keindahan alam (Saarelainen, 2016).
Pendidikan masa kecil tersebut sangat bermanfaat bagi keberlangsungan karier militernya. Pada 1925, dia mengikuti program wajib militer yang diselenggarakan pemerintah. Dalam kurum waktu setahun, ia berhasil naik pangkat menjadi kopral.
Selesai wajib militer, ia tetap menjadi tentara bagi Finlandia. Ketika Uni Soviet menyerbu Finlandia, Häyhä menjadi penembak jitu bagi negaranya.
Selama menjadi penembak jitu, Häyhä telah membunuh lebih kurang 500 pasukan soviet. Akurasi tembakannya dalam 1 menit bisa mengenai 16 target dengan tepat sasaran, dalam jarak sekitar 150 meter (Saarelainen, 2016).
Melihat banyak pasukannya berguguran, Uni Soviet mengerahkan penembak jitu untuk memburu Simo Häyhä. Namun, hal tersebut tidak membuahkan hasil bagi Soviet.
Baru pada 6 Maret 1940, ketika Uni Soviet melepaskan tembakan artileri acak ke tempat yang diyakini sebagai tempat persembunyian Simo Häyhä, salah satu peluru yang dilepaskan mengenai rahang kirinya.
Ia tidak sadarkan diri, dan koma selama sebelas hari. Ketika ia sudah sadar, perang antara Finlandia dan Uni Soviet telah berakhir.
Butuh waktu lama baginya untuk menjalani penyembuhan. Setelah membaik, ia memutuskan untuk menjadi pemburu rusa, dan menjadi peternak anjing setelah Perang Dunia Kedua berakhir.
Ketajaman Simo Häyhä mengingatkan kita akan kisah SpongeBob dan Patrick bermain bola salju. Saat itu, SpongeBob iseng melempar bola salju dan mengenai Patrick. Lemparan tersebut membuat Patrick ketakutan, dan berkata kepada SpongeBob: “seseorang mengejarku, aku harus meninggalkan kota.”
Mungkin apa yang diungkapkan Patrick tersebut menggambarkan ketakutan pasukan Uni Soviet ketika Simo Häyhä memburu mereka di tengah timbunan salju, dengan senapan di tangan, memburu mereka yang lengah.
