Apakah Patrick Star menikah? Siapa perempuan di lautan yang mau menerimanya, seekor bintang laut penganggur dan pemalas?
Bukan, bukan … Patrik memang tidak menikah. Namun, pada episode Rock-a-bye Bivalve, Spongebob dan Patrick menjadi orang tua bagi Junior, seekor bayi kerang. Pada pembagian tugas, Patrick berperan sebagai ayah, dan Spongebob sebagai ibu.
Layaknya seorang ayah, Patrick pergi “bekerja” setiap pagi, dan SpongeBob mengerjakan semua pekerjaan rumah. Termasuk, dalam hal ini, adalah mengganti popok Junior.
Patrick sama sekali tidak membantu tugas rumah, termasuk mengurus Junior. Semua dibebankan kepada SpongeBob.
Pada akhirnya, SpongeBob kesal dan beradu argumen dengan Patrick. Ternyata, “pekerjaan” yang dilakukan Patrick hanya menonton televisi seharian di rumah batnya. Padahal, pada pagi harinya, Patrick sudah berjanji kepada SpongeBob untuk pulang jam enam tepat dan membantu pekerjaan rumah.
Kisah Patrick Star adalah gambaran bagaimana sistem patriarki itu berjalan. Menurut Hidayat (2023), kata patriarki artinya “kekuasaan bapak.” Lebih lanjut, Rokhmansyah (2013) melalui Sakina & Siti (2017) menjelaskan bahwa patriarki adalah sistem yang menempatkan posisi laki-laki sebagai penguasa tunggal, supremasi tertinggi dan segala-galanya.
Dengan kedudukan laki-laki yang berada di puncak, membuat peran perempuan terlihat tipis. Sebagian masyarakat berprinsip, jika perempuan hanyalah tempat reproduksi. Itu membuat perempuan lebih baik untuk tinggal di rumah dan fokus pada tugas melanjutkan keturunan. Sialnya, karena dianggap hanya berdiam di rumah, pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab perempuan, selain mengurus anak tentunya.
Selain itu, perempuan kerap dianggap lemah, mendahulukan perasaan daripada logika. Itu menyulitkan perempuan untuk menjadi wanita karier dan bersaing dalam masyarakat luas.
Langgengnya budaya patriarki di tengah masyarakat telah merenggut kebebasan perempuan lewat konstruksi sosial, mempengaruhi pola pikir masyarakat. Aturan-aturan yang hadir saat ini, lebih terlihat seperti sebuah bentuk pembatasan ruang gerak bagi perempuan.
Hasilnya, banyak kejadian tidak menyenangkan dialami oleh perempuan, seperti pelecehan, kekerasan, dan diskriminasi. Mengutip data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, tt.), dari 5.545 kasus terhadap perempuan dan anak pada 2025, 80% korban kekerasan dialami oleh kaum perempuan.
Dengan terbatasnya ruang gerak perempuan, Wijayanti (2013) melalui Kodaryani (2023) mengatakan munculnya gerakan feminisme yang dipelopori oleh Lady Mary Wrotley Montagu dan Marquis de Condoret di Eropa. Berakhirnya Revolusi Amerika dan Revolusi Prancis menjadi awal lahirnya gerakan feminisme, ketika kaum perempuan menyadari bahwa posisi mereka tidak seberuntung kaum pria dalam lingkungan sosial.
Menurut Simon de Beauvoir melalui Hidayah (2023), feminisme adalah gerakan yang bertujuan untuk menghilangkan sekat antara laki-laki dan perempuan di lingkungan sosial. Gerakan ini muncul tas dasar bahwa perempuan ingin memiliki posisi yang sama dengan laki-laki di hadapan publik.
Namun, seringkali feminisme dicap sebagai upaya perempuan untuk merebut supremasi kaum laki-laki. Dalam konteks agama Islam, gerakan ini didukung sebagai upaya mencapai keadilan bagi kaum perempuan.
Sebelum masuknya Islam, perempuan ditempatkan pada kedudukan yang rendah. Mereka bisa diperlakukan semena-mena, bahkan diperjualbelikan secara bebas. Romlah (2015) memberi contoh, dalam ajaran Yahudi, mereka mengganggap kedudukan perempuan setara dengan pembantu. Selain itu, perempuan juga diasumsikan sebagai sumber bencana, karena menyebabkan Nabi Adam terusir dari surga.
Kedatangan Islam telah mengangkat derajat wanita. Seperti dalam HR Muslim, dinyatakan bahwa اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ اْلأُمَّهَاتِ (surga berada di bawah telapak kaki Ibu). Romlah (2015) menjelaskan bahwa surga yang dijanjikan kepada ibu, tidak serta merta didapatkan dengan mudah. Ada proses yang harus dilalui ibu untuk mendapatkan tiket surga tersebut, seperti merawat dan menyayangi anaknya, berbakti pada suami, dan menjadi tauladan bagi anak-anaknya.
